Kamis, 02 Februari 2012

Lirik Lagu Jembatan Batang Toru

BATANGTORU - Siapa diantara kalian putra putri batangtoru yang masih mengenal lirik lagu dari jembatan Batangtoru ini?mungin banyak anak2 muda kita ataupun orangtua bahkan kita sendiri yang sudah melupakan lagu ini,memang sich lagu ini sudah sangat lama sekali kalau tidak salah Lagu jambatan Batangtoru sangat populer sekitar tahun 70-an.menurut info2 yang saya cari dari beberapa sumber Lagu ini tentang seorang pemuda yang terkendala menikah karena orangtuanya terlibat PKI.Pihak keluarga perempuan tidak menyetujui lamaran dari keluarga pemuda yang terlibat tadi.Wah memang sangat menarik sekali ,okeh deh saya mencoba untuk melestarikan lagu ini dengan mempostingnya disini,kalau ada liriknya yang salah mohon saran dan kritiknya

batangtoru
Jembatan batang toru
Hau nai maranti batu
Sai sundat mambuat boru dainang
Ala terlibat di gestapu

Dison ma ho inang
Ai nungnga ro surat manjou
Baritama pabege bege dainang
Aut na lao mate nama au

Molo dung habisi
Boras satangkar nasaotiki
Boan dainang ma sude gellengtai
Tu jabu ni oppung nai

gimana?apakah anda masih ingat?mari kita lestarikan batangtoru kita tercinta :)

Senin, 16 Januari 2012

Kandungan Emas di Tanah Batangtoru

BATANGTORU - Salah satu pemaparan Tim Duffy, GM Operation G-Resources Martabe, yang paling menarik disimak adalah proses menghasilkan emas. Dibutuhkan dana sangat besar dan teknologi tinggi untuk menghasilkan serpihan emas.
Kandungan emas di tanah Batangtoru pertama kali ditemukan pada 1997 oleh perwakilan perusahaan Normandy. Pada 2002, hak pengelolaan emas di lokasi tersebutberalih ke pihak Newmont. Pada 2005/2006 hak penambangan beralih lagi ke Agincourt Resources.
Pada 2006, Agincourt Resources mendapat izin eksplorasi tetapi kemudian menjual haknya ke perusahaan tambang Oxiana pada 2007.
Setahun kemudian, Oxiana merjer menjadi perusahaan tambang OZL dan pada 2009, G-Resources mengambil alih hak atas tambang emas di Batangtoru. Mulai tahun inilah kiprah perusahaan tambang emas yang berkantor dan listing di bursa saham Hongkong ini memulai kiprahnya di Batangtoru.
Proyek Martabe memiliki lima lokasi tambang atau pit potensial dan siap dieksploitasi di lahan seluas sekitar 3 ribu hektare. Lokasi itu berada di pit Purnama, Barani, Ramba Joring, Tor Uluala dan Uluala Hulu.
Saat ini, konsentrasi pertambangan di lokasi tambang Purnama. Prosesnya masih dalam tahap konstruksi dan diharapkan mulai berproduksi pada akhir kwartal pertama 2012 dengan kapasitas 250.000 ounces emas dan 2-3 juta ounces perak.
“Kami bekerja sesuai target tetapi tetap mengacu pada standar internasional baik secara teknis maupul lingkungan. Dalam setahun kita bisa menghasilkan 7,5 ton emas,” kata Tim.
Sebuah pernyataan Tim Duffy membuat agak terperangah. Belanja modal yang dikeluarkan utuk pembangunan hingga pertengahan 2011 sudah hampir 600 juta dolar AS. Bila angka ini dirupiahkan dengan kurs Rp10.000 ribu per dolar, angka itu setara dengan 6 triliun rupiah. Sungguh angka yang fantastis.
Menurut pemaparan pria yang paling bertanggung jawab di Proyek Martabe ini, pabrik pengolahan yang sedang dibangun di lahan tambang, mampu menghancurkan 10 ribu ton batu mengandung mineral berharga per hari. Batu-batu yang merupakan bahan mentah (raw material) tersebut akan menjalani enam tahapan proses produksi. Total waktu yang diperlukan hingga keluarnya hasil akhir berupa 90 persen emas dan 90 perak, selama 20 menit.
Hasil tambang dalam bentuk batangan campuran emas dan perak kemudian dibawa ke PT Aneka Tambang untuk dimurnikan dengan kadar tinggi untuk selanjutnya dijual di pasar logam mulia internasional.
Terasa lebih mengagetkan lagi setelah proses menghasilkan diurasi. PT Agincourt Resources yang 95 persen sahamnya dikuasai G-Resources hanya menghasilkan ‘sedikit’ emas dari banyak bongkahan batu untuk kemudian diproses di mesin penghancur dengan teknologi tinggi. Masih dari pemaparan Tim Duffy, dari 2,5 ton raw material, hanya menghasilkan 2,5 gram emas.
Bila dirinci lebih detail, lahan tambang di Proyek Martabe memang hanya menghasilkan emas dengan perbandingan volume per volume 1:100.000 dari raw material. Washington Tambunan, penasihat PT AR, serta Agus Supriynto selaku Deputy Mine Manager, yang memang hadir di Pelangi Recreation Room, turut memberi penjelasan.
Pertambangan ini memang ekonomis. Semuanya sudah diperhitungkan dengan cermat. Menurut pihak manajemen PT AR, lokasi strategis Proyek Martabe yang tidak jauh dari jalan lintas Sumatera, Pelabuhan Sibolga, Bandara Dr FL Tobing/Pinangsori dan Bandara Aek Godang dan didukung fasilitas kelistrikan dari PLN menjadi nilai lebih pertambangan ini. Ceritanya bisa berbeda ketika lokasi tambang jauh di pedalaman yang minus ketersediaan fasilitas pendukung.
Terlepas dari hitung-hitungan kandungan emas di Proyek Martabe, toh proyek ini sudah menjalani uji kelayakan dan sudah mendekati masa produksi. Segala perlengkapan yang dibutuhkan sudah mendekati bentuk yang sempurna. Masyarakat di sekitar tambang juga sudah banyak merasakan dampak positif kehadiran perusahaan tambang ini. Hingga saat ini, proyek konstruksi di lokasi tambang sudah menyerap sekitar 3.700 tenaga kerja. Dari jumlah itu, sekitar 70 persennya berasal dari warga sekitar tambang.
Banyak efek ganda (multiplier effect) yang dihasilkan mulai dari ketersediaan lapangan kerja baru di luar pertambangan hingga program-program PT AR yang memang ditujukan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang. Di pelataran parkir yang terdapat di lokasi depan perusahaan saja, terdapat jajaran sepeda motor baru milik warga sekitar yang bekerja di proyek. “Jumlahnya mencapai ribuan, dan semuanya sepeda motor baru,” ujar Katarina Hardono yang menterjemahkan pemaparan Tim Duffy.
Itu masih yang skala kecil-kecil. PT AR juga membuka kesempatan kepada warga sekitar untuk menjadi pengusaha, dengan menjadi rekanan perusahaan tambang tersebut. Tidak jauh-jauh, empat unit mobil Toyota Innova yang mengangkut rombongan dari bandara Dr FL Tobing/Pinangsori, merupakan milik warga sekitar yang direntalkan kepada perusahaan itu.
Terkait pengelolaan hubungan baik dengan masyarakat sekitar, pengelolaannya dikoordinir Stevi Thomas selaku Community Relations Manager, dan rekan-rekannya di divisi Community Relations PT AR.

Sumber :
Toga MH Siahaan
 http://www.hariansumutpos.com/2011/11/19673/25-ton-batu-hasilkan-25-gram-emas.htm

Tambang Emas Batangtoru Pilih Wanita karena Lebih Telaten

BATANGTORU - Bekerja di dunia pertambangan bukan lagi hanya domainnya kaum pria. Setidaknya, hal itu bisa terlihat di Proyek Martabe di Batangtoru.
Usai perkenalan di Pelangi Recreation Room, para jurnalis peserta kunjungan sehari ke pertambangan emas Proyek Martabe milik PT Agincourt Resource (PT AR) di Batangtoru diajak berkeliling ke kawasan tambang. Lokasi pertama yang didatangi adalah bendungan penampungan lumpur sisa tambang emas atau tailing storage facility (TSF). Di bendungan ini yang nantinya sedalam 300-360 meter ini akan ditampung 11-12 juta meter kubbik ampas tambang yang sudah didetoksifikasi.
Agus Supriyanto, Deputy Mine Manager memastikan, tiga lapis penyaringan limbah dan beberapa perlakuan lain akan mampu menawarkan limbah tambang ini sebelum mengalir ke hilir Aek Pahu.
Tiga pipa yang mengalirkan air bersih, diklaim lebih bersih dari air yang selama ini dikonsumsi warga, ‘diselamatkan’ agar tidak menyentuh kawasan bendungan. “Sumber air murni di luar badan bendungan dengan 3 water dispersion pakai pipa besar, dialirkan ke Aek Pahu Lama di hulu,” ujar Agus Supriyanto.
Dari lokasi TSF, rombongan jurnalis bergerak ke lokasi pabrik yang pembangunannya sedang dalam tahap finishing. Di pabrik inilah nantinya raw material dari pit Purnama dan pit-pit lainnya diproses menghasilkan emas dan perak. Sekali lagi, Tim Duffy, GM Operation G-Resources Martabe, menerangkan rencana pengolahan raw material di pertambangan itu.
Perjalanan kemudian berlanjut ke pit Pur, lokasi tambang yang letak gerografisnya lebih tinggi. Di tempat itu, sejumlah alat berat bekerja,  mempersiapkan tahapan eksploitasi. Di ketinggian sekitar 487 di atas permukaan laut (dpl) itu, Tim Duffy mengajak rombongan ke sebuah tempat yang memungkinkan memandang wilayah Proyek Martabe.
Setelah memberi penjelasan seputar rencana pengembangan Proyek Martabe, Tim menunjuk ke arah alat berat bernama articulated dump truck (ADT) yang sedang memuat batu dan tanah. Truk Cat 740 enam roda dengan kemampuan beban tetapan 43,5 ton itu, katanya dioperasikan oleh seorang wanita. Karena tidak diperkenankan mendekat ke lokasi alat berat bekerja untuk memastikan apa yang disebutkan Tim Duffy, para jurnalis diminta menunggu di tepi jalan yang akan dilalui truk tersebut.
Sekitar 200 meter dari lokasi muatan tanah, ADT berhenti. Tim meminta stafnya untuk menghentikan truk dan memberi kesempatan jurnalis berbincang dengan operatornya. Benar juga. Dari truk setinggi sekitar dari 3 meter itu, keluar seorang wanita bertubuh mungil. Setelah helm pengamannya dibuka, terlihat rambut hitamnya yang panjang. Namanya Sri Hastuti, 25 tahun. Tinggi badannya hanya 150 cm.
“Saya dilatih tiga bulan,” kata bungsu dari 6 bersaudara tersebut menjawab pertanyaan jurnalis.
“Coba tanya, apakah sebelumnya Sri bisa mengendarai mobil,” pancing seorang staf PT AR. Ternyata tidak bisa. Jangankan mobil, mengendarai sepeda motor saja sebelumnya Sri tidak mampu.
Sri Hastuti bekerja untuk perusahaan Leighton, rekanan PT AR yang bertugas menyiapkan konstruksi pertambangan. Di proyek itu, dia sudah setahun ini dia mengendalikan ADT dengan upah Rp3,8 juta per bulan. “Sebelumnya saya tidak pernah mimpi bawa truk sebesar ini. Lumayanlah, saya sudah bekerja dengan gaji segitu,” ujar warga Aek Pining ini.
PT AR sepertinya menaruh perhatian khusus bagi pekerja wanita. Menurut Communication Manager PT AR, Katarina Hardono, kaumnya yang bekerja di proyek Martabe sudah belasan persen dari total. Kedepannya, setelah memasuki tahap produksi, pekerja wanita akan mendapat kuota 30 persen. Bidang yang digeluti, hampir di semua proyek tambang, termasuk bidang yang selama ini lazim ditangani kaum Adam.
Mengapa PT AR memberi porsi lumayan besar? “Karena wanita lebih telaten,” kata Katarina memberikan alasan.
Cerita tentang Sri Hastuti menjadi kisah akhir yang disuguhkan manajemen PT AR di pit Purnama. Rombongan kemudian diarahkan ke core shed, tempat hasil sample galian disimpan dan dipelajari. “Ini ibarat perpustakaan bagi kami,” ujar Jajan Hertrijana, geolog PT AR sambil memperlihatkan batu-batu sampel yang diambil dari sejumlah lolasi tambang.
Disebut seperti perpustakaan, karena Jajan Hertrijana dan geolog lain di PT AR selalu meneliti setiap sampel minelar yang terus berdatangan. “Kalau dijejerkan, panjangkan mungkin sudah sampai 100 kilometer,” ujar Jajan merujuk banyaknya batu-batu berbentuk bulat panjang yang dipajang disejumlah rak tersebut. Dalam penelitian, sampel batu-batu mengandung serpihan emas ini kemudian dihaluskan menjadi bubuk di Padang untuk diteliti lebih lanjut di Jakarta.
Puas mengelilingi core shed, pukul 12.35 WIB rombongan kembali ke Pelangi Recreation Room untuk beristirahat, sebelum kembali ke Medan. Usaimakan siang, rombongan kembali disuguhi fakta-fakta yang telah dilakukan PT AR sebagai bentuk pertanggungjawaban sosial dan perbaikan lingkungan dan mendukung komitmen tambang hijau.
Menurut Manager Community Relation, Stevi Thomas, lebih dari 13 ribu jiwa dari tiga desa terkena imbas pembangunan Proyek Martabe. Stevi Thomas menjamin, pihaknya sudah melakukan sejumlah upaya untuk memberi kompensasi bagi warga tersebut. Selain pemerian berbagai donasi, pihaknya menjadi sponsorship berbagai kegiatan kemasyarakatan, teribat aktif dalam kegiatan kemanusiaan, termasuk menangani bocah gizi buruk dan mendukung pelaksanaan Posyandu di sekitar tambang. Dari Pelangi Recreation Room, rombongan diajak menyaksikan peresmian Taman Baca Anak Teratai Desa Wek I. Taman bacaan ini menjadi yang keempat yang dibangun masyarakat sekitar dan difasilitasi PT AR.
Dari Desa Wek I, rombonganl angsung menuju Bandara DR FL Tobing/Pinangsori untuk kembali ke Medan. Kali ini rombongan kembali dilayani duo pilot-co pilot Kris dan Jakub. “Saya pernah terbang dengan Susi Air yang dipiloti dua pilot wanita. Sayang bukan mereka yang bawa sekarang,” ujar Katarina Hardono. Tak apalah. Hampir satu jam kemudian,sekitar pukul 17. 00 Wib, rombongan sudah tiba kembali di Bandara Polonia Medan dan berpisah untuk melaksanakan tugas masing-masing.
sumber :  Toga MH Siahaan
 http://www.hariansumutpos.com/2011/11/19745/pilih-wanita-karena-lebih-telaten.htm
 

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Bluehost